oleh

Sangkarrang Covid 19 di Makassar

banner 970x250

SURYATIMUR.ID.
Makassar – Kamis, 30 September 2021, udara pagi sudah cukup menyengat, padahal siang itu baru jam 9.00 pagi. Kapal kayu yang berkapasitas 60 penumpang itu bergerak menjauhi dermaga. Berlayar menuju arah barat Kota Makassar. Kekuatan berlayar sekitar 6 knot per jam. Sekitar sejam kemudian tibalah kapal kayu yang kami tumpangi di Pulau Barrang Caddi, sebuah pulau yang berada di wilayah Kecamatan Sangkarang, kecamatan yang memiliki kelurahan yang kesemuanya berupa pulau.

Pulau yang berjarak sekitar 11 mil dari pantai Makassar seluas 4 hektar ini berpenduduk 1.263 jiwa. Umumnya bermata pencaharian nelayan.

Menjelajahi pemukiman penduduk serasa berada di sebuah kampung halaman dengan keramahan dan suasana religius yang kental mewarnai kehidupan warganya.

Pulau Barrang Caddi, seperti halnya 5 pulau lainnya dikenal sebagai pulau yang bebas covid-19 . Saat di beberapa daerah masuk zona merah atau level 4, di salahsatu kecamatan di Makassar justru dalam posisi nol kasus covid 19.

Kasus COVID-19 di Kecamatan Kepulauan Sangkarrang di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), saat ini nihil kasus COVID-19. Artinya, sudah tidak ada lagi warga di sana yang terpapar virus tersebut. Salah satu faktor yang membuat Sangkarang hingga saat ini bebas dari dampak penyebaran COVID-19 adalah kedisiplinan.

Jajaran pemerintahan kecamatan hingga tingkat RT/RW dan warga diklaim konsisten dalam menjaga kesehatan.

Letaknya yang berada di kawasan kepulauan, kemungkinan besar juga menjadi salah satu faktor sehingga warga Sangkarrang ketat dalam menjaga kesadaran dan mendisiplinkan diri dalam setiap aktivitas.

Sama dengan 14 kecamatan lainnya, di Sangkarrang juga telah dijaga ketat oleh petugas selama pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kota Makassar. Wali Kota Makassar Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto mengklaim penyebab nol kasus di kecamatan tersebut karena mereka menghirup udara klorin dari air laut yang diklaim mampu menangkal virus Corona.

“Ya memang kan air udara itu kan klorin. Tapi saya kira harus intens prokes juga. Makanya kenapa saya suruh isolasi di kapal karena udara klorin,” kata Danny di Makassar.

Menurut Danny, satgas bukannya tidak pernah mendata atau men-tracing warga di sana. Satgas tetap melacak dan memeriksa sampel swab sebagaimana prosedur di tempat-tempat lainnya.

“Ada swabnya, tracing juga, ada Covid Hunter juga,” kata Danny.

Kecamatan Sangkarrang memang merupakan wilayah kepulauan yang letaknya tak jauh dari daratan Kota Makassar. Untuk menuju ke sana, masyarakat harus menggunakan kapal atau perahu dengan waktu tempuh yang tidak lama. Mobilitas warga di sana juga tidak seaktif di wilayah perkotaan. Kebanyakan warga beraktivitas hanya di pulau tersebut. Sudah berbulan-bulan, kasus COVID-19 di kecamatan ini terus nol.

Berdasarkan data Posko Induk Info COVID-19 Kota Makassar per 5 Agustus 2021, kasus terkonfirmasi positif hanya mencapai 32 kasus. Angka tersebut sangat jauh dibandingkan dengan kecamatan lainnya yang berada di pusat perkotaan seperti Kecamatan Rappocini dengan total 5.873 kasus. Rappocini sejauh ini merupakan kecamatan di Makassar dengan angka kasus terkonfirmasi tertinggi. Hal ini pula yang menjadi salah satu alasan, pihak Pemkot melakukan isolasi apung di atas laut dengan menggunakan KM Umsini. Dengan harapan mereka yang terkena covid 19 bisa segera sembuh karena menghirup klorin. Fungsi utama klorin adalah menghambat pertumbuhan serta membasmi bakteri dan berbagai jenis mikroba. Karena manfaat ini, klorin sering kali digunakan sebagai penjernih air minum dan kolam renang.

Tak hanya itu, klorin juga digunakan sebagai bahan aktif dalam produk pembersih rumah tangga atau produk pembalut.

Tempat yang kami tuju kali ini adalah Masjid Miftahul Jannah, di tempat inilah sosialisasi seputar visi misi BAZNAS Makassar di dalam ikut mendisiplinkan warga masyarakat mematuhi protokoler kesehatan Covid-19, terutama di kalangan UPZ masjid sebagai ujung tombak BAZNAS di level paling dekat dengan warga dan ummat.

Tampaknya, warga masyarakat pulau kelihatan lebih patuh terhadap titah orang orang yang ditokohkan. Itu pula sebabnya begitu berada di tempat umum kepatuhan mengenakan masker senantiasa jadi perhatian mereka. Tentu saja selain faktor lingkungan yang membuat virus Corona enggan berbiak. Air dan udara yang mereka terasa asin kan. Semoga pandemi Covid-19 segera berlalu. (Jurlan Em Saho’as/red).

Editor : Fakhruddin / Asrul.

banner 970x250

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed