oleh

Dewan Pembina DPP PANI  Mengecam Aksi Kericuhan Di Kesultanan Cirebon, “Jangan Terulang Lagi “

banner 970x250

SURYATIMUR.ID.JAKARTA – Tentang adanya  kericuhan yang terjadi beberapa saat lalu di area Kesultanan Cirebon, sontak membuat sebagian masyarakat  kaget dan merasa prihatin dengan adanya kejadian ini,  seperti pada  video yang beredar di beberapa grup sosial media.

Hal ini pula dirasakan oleh Salah Seorang tokoh Masyarakat Sulsel yang ada Di Jakarta yang juga adalah Pendiri  dan sekakigus Dewan Pembina DPP Pasukan Adat Nusantara Indonesia ( PANI ), Syarifuddin Daeng Punna  menyayangkan terjadinya kericuhan di area Kesultanan Cirebon. Kericuhan di Kesultanan Cirebon menjadi pelajaran bagi Pemangku adat agar tetap menjaga nilai kearifan lokal.  Hal ini diungkap SAdAP setelah melihat video yang beredar di Beberapa grup sosial media.

Lanjut SAdAP menguraikan bahwa Kerajaan Cirebon merupakan sebuah kerajaan bercorak Islam ternama yang berasal dari Jawa Barat , Kesultanan  Cirebon berdiri pada abad ke-15 dan 16 Masehi.

“Selaku pendiri sekaligus Dewan Pembina PANI, saya menyayangkan dan  mengecam aksi yang merusak semacam itu, kejadian di Area Kesultanan cirebon ini sama halnya tidak menghargai leluhur apalagi kesultanan itu merupakan tempat yang sangat terhormat sebab disitu lahir warisan budaya, adat istiadat lalu kemudian dilestarikan oleh penerus tahta kesultanan Kerajaan Cirebon” Kata SAdAP.

Lanjut dikatakan runtuhnya Kerajaan Cirebon dimulai pada 1666, pada masa pemerintahan Panembahan Ratu II atau Pangeran Rasmi. Penyebab keruntuhan dilatarbelakangi oleh fitnah dari Sultan Amangkurat I, penguasa Mataram yang juga mertua Panembahan Ratu II masa silam berapa abad yang lalu sebelum menyatu seluruh Kesultanan dan Kerajaan Nusantara menjadi NKRI. Kesultanan cirebon itu adalah sebuah kesultanan di jawa abad 15-16  dan merupakan pangkalan penting jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau  juga kerajaan cirebon bercorak islam ternama berasal dari Jawa Barat tempat yang sangat Sakral sebab disitu lahir Pemimpin dan ulama ulama besar, juga Hadat dan adat istiadat harus dilestarikan oleh penerus tahta kesultanan cirebon. Urai sadap memaparkan sejarah singkat.

Lanjutnya, semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Saya berharap kepada anggota PANI yang dalam hal ini DPD I PROVINSI JAWA BARAT Di Cirebon agar dapat menjadi penengah atas kekisruhan yang terjadi, tetap menjadi penjaga warisan leluhur yang ada disana sebab dikhawatirkan muncul provokator yang mencoba untuk memecah belah kesultanan cirebon.

“Sebagaimana diketahui, PANI telah terbentuk disemua provinsi Se-Indonesia. PANI merupakan organisasi yang menghimpun PASUKAN ADAT penjaga Marwah Hadat dan adat istiadat kerajaan Nusantara yang diwariskan secara turun temurun, selain itu tugas utamanya adalah menengahi setiap masalah yang dihadapi oleh kerajaan yang masih eksist yang ada di wilayah NKRI  hall ini diungkapkam oleh KETUM DPP PANI Muh.Akbar Amir Sultan Aliyah,  Raja Tallo XIX Makassar saat dihubungi via Watch APP oleh  Syarifuddin Daeng Punna Salah satu Pewaris Kerajaan Balasuka Daratan Tinggi Gowa. (*)

Laporan : Asrul

banner 970x250

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed